Rabu, 04 April 2012

resume dasar-dasar bimbingan dan konseling

RESUME DASAR-DASAR BIMBINGAN KONSELING

1.                   Pengertian Bimbingan dan Konseling

A.           Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan berasal dari kata guidance. Guidance berasal dari guide yang artinya menunjukkan, memimpin atau mengatur.
Unsur-unsur bimbingan :
1.       Proses                                  : mengindikasikan adanya perubahan secara berangsur-angsur dalam kurun waktu tertentu.            
2.       Membantu                         : memberikan pertolongan
3.       Orang-perorangan          : Individu yang diberi pertolongan
4.       Memahami diri                 : mengenali diri secara mendalam, meliputi keterbatasan serta potensi-potensi dalam diri.
5.       Lingkungan hidup            : Ruang lingkup hidup seseorang
Dari unsur-unsur bimbingan tersebut maka bimbingan terdefinisikan sebagai berikut :
Bimbingan adalah suatu proses bantuan yang diberikan orang lain agar dapat meahami diri sendiri dan lingkungan hidup. (bersifat preventif)

Ciri utama bimbingan :
·         Bimbingan merupakan proses
·         Bimbingan merupakan proses yang berkelanjutan
·         Pemilihan dan penentuan masalah merupakan fokus utama bimbingan.
·         Bimbingan merupakan  bantuan  terhadap individu dalam proses perkembangannya, dan bukan sekedar mengarahkan perkembangannya.
·         Bimbingan merupakan layanan untuk semua.
·         Bimbungan merupakan layanan yang bersifat umum.

Konseling

Konseling berasal dari kata Counseling.
Counseling          counsel artinya nasihat, anjuran dan pembicaraan.
Unsur-unsur konseling :
1.       Proses konseling
2.       Wawancara
3.       Pemecahan masalah
Dari unsur kons eling tersebut, maka pengertian konseling adalah
Konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu melalui proses konseling dengan cara wawancara dalam memecahkan masalah kehidupannya. (Bersifat kuratif )
Karakteristik Konseling :
Ø  Pada dasarnya dilakukan secara individual, yaitu antara konseli dan konselor (Dalam perkembangannya ada konseling kelompok )
Ø  Pemecahan masalah melalui wawancara (diskusi) secara face to face
Ø  Dalam proses konseling konseli diharapkan dapat emecahkan masalahnya sendiri
Ø  Konseli diharapkan aktif memupuk kesanggupan dan kemampuan memecahkan masalah yang didalam.
Ø  Adanya helping relationship, hubungan yang dilakukan untuk memberikan bantuan.

B.                Keterkaitan  Bimbingan dan Konseling
Dari pengertian bimbingan dan pengertian konseling yang telah  dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, ternyata terdapat kesamaan, disamping ada sifat-sifat khas pada konseling. Bimo Walgito membandingkan kedua pengertian tersebut sebagai berikut :
Ø  Konseling merupakan salah satu metode dari bimbingan.
Ø  Pada konseling sudah ada masalah tertentu, yaitu masalah yang dihadapi konseli.
Ø  Konseling pada dasarnya dilakukan secara individual melalui tatap muka (face to face ), sedangkan bimbingan umumnya dijalankan secara kelompok.

2.                  Tujuan BK
Tujuan Umum BK
Membantu peserta didik mengenal bakat, minat, kemampuan, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan dan merencanakan karier sesuai dengan tuntutan kerja.
Tujuan Khusus
Membantu peserta didik agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier.
Hal tersebut digambarkan dalam ruang lingkup BK dengan pola 17+

Aspek Pribadi – Sosial membantu peserta didik agar :
1.       Memiliki kesadaran diri dan dapat mengembangkan sikap positif
2.       Membuat pilihan secara sehat
3.       Menghargai orang lain
4.       Mempunyai rasa tanggung jawab
5.       Mengembangkan ketrampilan hubungan antar pribadi (Interpersonal)
6.       Menyelesaikan konflik
7.       Membuat keputusan secara efektif

Aspek bimbingan belajar bertujuan agar peserta didik :
1.       Dapat melaksanakan keterampilan / teknik belajar secara efektif
2.       Dapat melaksanakan tujuan dan perencanaan pendidikan
3.       Mampu belajar secara efektif
4.       Memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi ujian
Aspek bimbingan karier dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi pekerja dan produktif. Adapun dalam aspek tugas perkembangan karier, bimbingan dan konselingmembantu peserta didik agar :
1.       Dapat membentuk identitas karier
2.       Dapat merencanakan masa depan
3.       Dapat membentuk pola karier
4.       Mengenali keterampilan, kemampuan, dan minat dalam dirinya

3.                   Fungsi Bimbingan dan Konseling

a.       Fungsi Pemahaman
Membantu peserta didik memahami diri dan lingkungan.
b.      Fungsi Pencegahan
Mencegah peserta didik agar tidak menemui permasalahan yang akan dapat menghambat dan menimbulkan kesulitan dalam proses perkembangannya.
c.       Fungsi Perbaikan
Membantu peserta didik mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.
d.      Fungsi Pemeliharaan
Menjaga agar perilaku peserta didik yang sudah menjadibaik jangan sampai rusak kembali.
e.      Fungsi Pengembangan
Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik.
f.        Fungsi Penyaluran
Membantu peserta didik untuk memilih dan menetapkan penguasaan karier yang sesuai dengan bakat, minat, keahlian dan ciri-ciri kepribadiannya
g.       Fungsi Penyesuaian
Membantu peserta didik menemukan penyesuaian diri dan perkembanganny secara optimal
h.      Fungsi Adaptasi
Membantu staf sekolah untuk mengadaptasikan program pengajaran dengan minat, kemampuan, serta kebutuhan peserta didik.
Sedangkan secara umum program layanan bimbingan konseling mempunyai empat funsi utama, yaitu :
1.       Pemahaman individu
2.       Pencegahan dan pengembangan
3.       Penyesuaian diri
4.       Pemecahan masalah

IV.       Prinsip Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1.    Bimbingan adalah suatu proses membantu individu (peserta didik).
2.    Bimbingan hendaknya berfokus pada individu yang dibimbing.
3.    Pemahaman keragaman dari kemampuan peserta didik yang dibimbing sangat diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling.
4.    Masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh tim pembimbing lingkungan lembaga pendidikan, hendaknya diserahkan kepada ahli / lembaga yang berwenang.
5.    Kegiatan bimbingan dan konseling dimlai dengan identifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh individu (peserta didik).
6.    Bimbingan harus luwes dan fleksibel.
7.    Program bimbingan dan konseling harus sesuai dengan program pendidikan pada lembaga umum.
8.    Pelaksanaan program bimbingan dan konselng hendaknya dikelola oleh orang yang ahli.
9.    Hendaknya ada evaluasi untuk mengetahui hasil pelaksanaan program.
VII.         Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
1.       Perlunya Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Proses pendidikan di sekolah terdiri dari tiga bidang yang berkaitan secAra integral, yaitu bidang administrasi dan supervisi, bidang pengajaran, dan bidang bimbingan. Ketiga bidang tersebut menunjang tercapainya tujuan pendidikan yaitu perkembangan yang optimal bagi setiap individu atau peserta didik, dalam hal ini bidang bimbingan mempunyai tanggung jawab dalam memberikan layanan kepada peserta didik   agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapi.
2.       Bidang – bidang Bimbingan dan Konseling
Bidang layanan Bimbingan dan Konseling merupapakan lingkup program Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada suatu sekolah. Terbagi dalam program umum dan khusus. Program umum mencakup bidang- bidang tertentu yang merupakanpenjabaran lebih khusus dari program umum.
Bidang – bidang bimbingan dan konseling meliputi :
a.       Bimbingan Pribadi, yaitu bidang layanan pengembangan kemampuan mengatasi masalah – masalah pribadi dan kepribadian.
Program Khususnya : bimbingan kehidupan remaja, Bimbingan kemandirian, dll.
b.      Bimbingan Sosial, yaitu layanan pengembangan kemampuan dan mengatasi masalah sosial.
Program Khususnya : Bimbingan mengatasi konflik, Bimbingan pengembangan kemampuan, Bimbingan pembinaan kerjasama, dll.
c.       Bimbingan Pendidikan / Belajar, yaitu bidang layanan yang mengoptimalkan perkembangan dan mengatasi masalah dalam proses pendidikan.
Bidang Khususnya : Bimbingan pengenalan perguruan tinggi, bimbingan lanjutan studi, dll.
d.      Bimbingan Karier, yaitu bidang layan yang merencanakan dan mempersiapkan pengembangan karier anak.
Bimbingan Khususnya : Bimbingan pengenalan dunia karier, bimbingan perencanaan karier, dll.

VIII.        Asas – asas Bimbingan dan Konseling
Asas-asas bimbingan dan konseling ini dianggap sebagai ambu-rambu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Adapun asas-asasnya adalah sbb :
1.       Asas Kerahasiaan
Segala sesuatu yang disampaikan oleh peserta didik kepada konselor harus dijaga kerahasiaanya.
2.       Asas Kesukarelaan
Konselor wajib mengembangkan sikap suka rela pada diri klien (peserta didik) sehingga klien mampu menghilangkan rasa keterpaksaannya kepada pebimbing / konselor.
3.       Asas Keterbukaan
Klien dan konselor hendaknya dapat bersikap terbuka.
4.       Asas Kekinian
Masalah yang ditanggulangi melalui layanan bimbingan dan konseling adalah masalah – masalah yang sedang dirasakan kini ( sekarang).
5.       Asas Kemandirian
Konselor hendaknya selalu berusaha menghidupkan kemandirian pada diri orang yang dibimbingnya agar tidak bergantung pada orang lain.
6.       Asas Kegiatan
Memfasilitasi tumbuhnya suasana yang akan membawa individu (yang dibimbing) mampu melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
7.       Asas Kedinamisan
Menghendaki  terjadinya perubahan pada diri individu yang dibimbing.
8.       Asas Keterpaduan
Berusaha memadukan berbagai aspek dari individu yang dibimbing.
9.       Asas Kenormatifan
Hendaknya tidak bertentangan dengan norma yang berlaku.
10.   Asas Keahlian
Petugas bimbingan dan konseling adlah orang yang ahli dalam penyelanggaraan layanan bimbingan dan konseling.
11.   Asas Alih Tangan
Konselor hanya menangani masalah-masalah yang sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya.
12.   Asas Tut Wuri Handayani
Keberadaannya hendaknya dirasakan manfaatnya oleh peserta didik setiap saat.
IX.           Jenis Layanan Bimbingan Konseling
                Berbagai jenis layanan perlu dilakukan sebagai wujud nyata penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik . Adapun layanannya adalah sbb :
1.       Layanan Orientasi
Yaitu layanan yang ditujukan untuk peserta didik/siswa baru guna memberikan pemahaman dan penyesuaian diri terhada lingkungan sekolah yang baru dimasuki.
2.       Layanan Informasi
Yaitu layanan yang berupaya untuk memenuhi kekurangan seseorang akan informasi.
3.       Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan ini membantu peserta didik untuk ditempatkan pada lingkungan yang lebih sesuai agar potensi dalam yang ada dapat berkembang secara optimal.
4.       Layanan Pembelajaran
Layanan ini merupakan bantuan kepada peserta didik untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalaui kegiatan belajar.
5.       Layanan Konseling Perorangan
Layanan yang memungkinkan peserta didik memperoleh pelayanan secara pribadi melalui tatap muka dengan konselor atau guru pembimbing.
6.       Layanan Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok adalah sejumlah peserta didik secara bersama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari narasumber (guru pembimbing).
7.       Layanan Konseling Kelompok
Layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk membicarakan dan menyelesaikan permasalahan yang dialami melalui dinamika kelompok.
8.       Layanan Konsultasi
Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada seseorang untuk memperoleh wawasan, pemahaman dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani atau membantu pihak lain.
9.       Layanan Mediasi
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan konselor terhadap dua pihak yang sedang dalam keadaan tidak menemukan kecocokan sehingga membuat mereka saling bertentangan.
X.            Kegiatan Pendukung Layanan Bimbingan dan Konseling
v  Aplikasi Instrumentasi
Yaitu kegiatan pendukung yang berupa pengumpulan data dan keterangan tentang peserta didik dan lingkungan yang lebih luas yang dilakukan dengan berbagai instrumen.
v  Himpunan Data
Yaitu kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik .
v  Konferensi Kasus
Yaitu kegiatan bimbingan dan konseling untuk membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak terkait.
v  Kunjungan Rumah
Yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi pemecahan masalah yang dialami peserta didik melalui kunjungan ke rumahnya.
v  Alih Tangan Kasus
Yaitu kegiatan bimbingan dan konseling untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas terhadap masalah yang dialami oleh peserta didik dengan memindahkan penanganan ke pihak lain yang lebih kompeten dan berwenang.

XI.           Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling
A.      Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Amerika Serikat
Perkembangan BK di Amerika Serikat ditandai dengan munculnya gerakan penyeuluhan pada abad 20 yang dipelopori oleh Frank Parsons dengan mendirikan biro efisiensi kerja pada tahun 1908 di Boston. Karena telah mempelopori gerakan bimbingan, Parsons dikenal sebagai bapak dari Bimbingan.
                Kemudian pada tahun 1910-1916, Jesse B Davis sebagai konselor sekolah di Central high School di Detroit, juga turut melakukan  gerakan dalam bidang bimbingan dan konseling.
                Pada tahun 1913 kegiatan tersebut juga dilakukan oleh Eli Wever dan John Brewer di Harvard University.
                Bimbingan dan Konseling berkembang pesat setelah perang dunia dan telah menampakkan manfaatnya bagi masyarakat yaitu membantu tentara yang tidak lagi berperang dan ingin kembali ke masyarakat.
B.      Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
BK dikenal di Indonesia setelah beberapa tokoh Indonesia berkunjung di Amerika Serikat. Kemudian dalam konferensi FKIP di Malang pada tahun 1960 diputuskan bahwa BK dimasukkan dlm kurikulum FKIP.
Pada tahun 1962 BK membantu penjurusan di SMA Gaya Baru. Tahun 1975 untuk pertama kalinya BK tertuang dalam kurikulum, yaitu kurikulum 1975. Pada tahun 1975 pula diselenggarakan kenvensi Nasional Bimbingan I di Malang dengan didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Konseling Indonesia (IPBI) yang sekarang Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN).
Pada tahun 1984 dalam kurikulum inti 1984 pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah tidak mengalami perubahan.
Pada kurikulum 1994, mengalami perubahan besar mengenai bimbingan dan konseling.

XII.         Landasan Bimbingan dan Konseling
                Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah mempunyai landasan yang sangat kuat, sehingga pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa ditawar lagi. Adapun landasan itu adalah :
1.       Landasan Filosofis
Kata filosofis berasal dari kata filosofi/filsafat. Filosofi adalah metode berfikir menurut logika yang bebas dan berusaha menelaah objek studi sedalam –dalamnya.
2.       Landasan Pedagogis / Landasan Pendidikan
Pendidikan (Pedagogis) diaryikan sebagai suatu proses bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan. Proses pendidikan ini dapat dilaksanakan secara formal, informal, dan non formal.
3.       Landasan Sosiokultural
Landasan sosiokultural meliputi msalah pertumbuhan penuduk dan perkembangan teknologi.
4.       Landasan Psikologi
Manusia adalah mahluk yang terus tumbuh dan berkemban dari asa konsepsi (masa dalam kandungan sampai akhir hayatnya).
5.       Landasan Ilmiah Tehnologis
Pembimbing tidak boleh bekrja sembarangan. Ia dibekali ilmu khusus yang berkadar ilmiah tehnologis.
6.       Landasan Agamis
Semua agama mengakui bahwa manusia adalah mahluk yang paling tinggi martabatnya diantara mahluk Tuhan lainnya.
7.       Landasan Hukum
Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah dilandasi oleh landasan hukum yang berupa undang-undang dan peraturan. Diantaranya adalah :
a)      Di dalam kurikulum 1975 buku IIIC SD, SMP, dan SMA telah dilakukan secara operasional pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah demikian pula dalam kurikulum pendidikan menengah kejuruan 1976 III D.
b)      SK Mendikbud No. 0370/0/1978, untuk SMP tgl 22 Des 197, dan SK Mendikbud No, 0371/0/1978, untuk SMA, tgl 22 Des 1978.
c)       Kurikulum SMP dan SMA tahun 1984.
d)      UU Pendidikan No. 2 tahun 1989.
e)      Peraturan Pemerintah no 28 tahun 1990.
f)       Peraturan Pemerintah no. 29 tahun 1990 Bab X pasal 27.
g)      Menurut SK Menpan No. 26 tahun 1989.
h)      Peraturan Pemerintah RI No. 38 tahun 1992 pada tanggal 17juli 1992 tentang kependidikan.
i)        SK Menteri Pendidikan No. 84/1993 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, pasal 3, pasal 5 butir 2.
j)        SK Mendikbud dan Kepala BAKN No. 043/0/1993 dan No 25 tahun 1993 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan atau fungsional guru dan anggota kreditnya (pasal 1, butir 4, 10, 11, 12, 13, 14)
k)      SKMendikbud No. 025/0/1995 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan gungsional guru dan anggota kreditnya (butir 1, 5a, 5c, 7a, b, d).


XII. Bimbingan Dalam Penentuan Pendidikan
Dari akar katanya bimbingan diartikan sebagai pemandu yang artinya mengarahkan dan mengatur.  Jadi dalam hal ini bimbingan diartikan sebagai suatu program yang menunjukkan tata cara  dan proses yang terorganisir  untuk mencapai  hasil pribadi dalm bidang pendidikan tertentu.
v  Program Bimbingan .
 Program bimbingan adalah tindakan formal sekolah yang diperlukan untuk membuat pedoman operasional dan tersedia untuk siswa. Program bimbingan yang disediakan untuk sekolah modern adalah sbb :
·         Komponen penilaian
Komponen ini merupakan komponen yang dirancang untuk mengumpulkan , menganalisis data dari siswa untuk mengetahui seberapa jauh siswa memahami diri.
·         Komponem informasi
Komponen ini dirancang untuk memberikan pengetahuan pada siswa mengenaii kesempatan pendidikan, kejuruan, dan pribadi sosial
·         Komponen Konseling
Dirancang untuk memudahkan pemahaman diri
·         Komponen konsultasi
Dirancang untuk memberikan bantuan teknis kepada guru, administrator dan ortu untuk membantu siswa dalam peningkatan sekolah 
·         Komponen perencanaan dan penempatan
Dirancang untuk meningktkan perkembangn siswa dengan melihat peluang kerja yang sesauai di lapangan
·         Komponen evaluasi
Dirancang untuk menentukan efektivitas program bimbingan
v  Bimbingan Dalam Pendidikan
Pendidikan adalah aset tak ternilai penting yang mendasar bagi perorangan dan masyarakat
v  Harapan Untuk Pendidikan
Diharapkan sekolah dapat menyediakan sarana untuk membangun intelektual/kecerdasan mereka.
v  Fungsi Pendidikan
Fungsi pokok pendidikan :
·         Fungsi pembangunan
Pendidikan punya tanggung jawab untuk membangun kualitas individu.
·         Fungsi perbedaan
Perbedaandari masing-masing individu dikristalkan menjadi pola yang sangat berbeda sebagai individu dewasa
·         Fungsi integrasi
Memberikan kontribusi sebisa mungkin untuk integrasi siswa
XIII.        Prinsip, Kritik dan Isu- isu BK
v  Prinsip Bimbingan
1)      Bimbingan secara primer dan sistematis adalah mengenai perkembangan pribadi dari individu.
2)      Model primer bimbingan dilakukan pada proses perilaku individu.
3)      Bimbingan berorientasi pada kerjasama, bukan pada paksaan.
4)      Manusia mempunyai kapasitas / kemampuan untuk mengembangkan diri.
5)      Beimbingan dilaksanaan dengan menghargai harkat dan martabat manusia.
6)      Bimbingan bersifat terus menerus dan berurutan.

v  Kritik Bimbingan
1)      Semua pendidik harus memiliki tanggung jawab dalam proses pendidikan.
2)      Istilah bimbingan terkesan bersifat otoriter dan paternalisme.
3)      Bimbingan Konseling hampir kehilangan identitasnya dibandingkan dengan psikologi.
4)      Konselor itu dilatih untuk mampu memecahkan masalah yang dihadapi klien.
5)      Konselor menghabiskan waktu mereka hanya pada PT / siswa dan mengabaikan tenaga kerja.
6)      Bimbingan adalah utheoritical, bahwa praktek bimbingan saat ini adalah tindakan yang tidak dapat didasarkan pada teori apapun.
7)      Konselor kurang bersimpati dalam melayani siswa kelompok minoritas.
8)      Tanggapan konselor pada klien wanita didasarkan pada klise perempuan.

v  Isu – Isu Bimbingan Konseling
1)      Kekuatan ekonomi dan industri lebih kuat daripada sosial politik, merupakan alasan mengapa bimbingan berasal dari Amerika Serikat.
Diskusi: Banyak alasan yang telah dikemukakan untuk menjelaskan fenomena bimbingan yang ditemukan di Amerika.
2)      Akan lebih baik jika layanan bimbingan telah ditemukan di beberapa lembaga masyarakat, baru sekolah.
Diskusi: mengapa bimbingan tetap didirikan di beberapa lembaga masyarakat lain merupakan sebuah tantangan yang setiap prakteknya memerlukan pemikiran.

XIII.        Model Bimbingan
1.       Model Parsons
                Parsons memberikan tiga faktor utama dalam memilih lapangan pekerjaan, yaitu :
a)      Analisa Individual
Konselor dan klien bersama menganalisa kemampuan, minat dan tingkah laku klien.
b)      Analisa Pekerjaan
klien belajar mengenai penempatan, peluang, kebutuhan dan prospek ketenaga kerjaan dalam berbagai bentuk pekerjaan.
c)       Perbandingan dua bagian dari dua analisa.
Konselor dan klien memperbincangkan hubungan antara dua bagian dari data.

Keuntungan dari model Parsons adalah jelas  hal-hal ini menarik akal logila dan umum, dan bisa diprogram ke dalam sekolah-sekolah karena kepastiannya.
Kelemahan model Parsosns adalah sebagai berikut :
a.       Teori-teori ini diasumsikan bersifat statis karena adanya pencocokan orang dalam pekerjaan.
b.      Teori ini menjadi praktek sebelum itu dapat dievaluasi.
c.       Idenya diambilkan dari kontak yang terbatas selama waktu yang singkat.
d.      Adanya asumsi bahwa guru ketinggalan zaman dan informasi.
e.      Konselor bertindak sebagai informasi kerja.
f.        Informasi formal tidak pernah bisa benar-benar aktual, realistis dan otentik.
g.       Parsons mengabaikan motivasi, kelas sosial ekonomi, dan nilai-nilai budaya.
Hasil dan implikasinya, Parsons mempunyai kontribusi besar yang tingkat penekanan pada analisis individu sebelum pemilihan penempatan.
Bimbingan identik dengan pendidikan. Tujuan pendidikan menurut Brewer adalah kehidupan yang efektif di tujuan bidang aktifitas manusia seperti :
Ø  Kesehatan
Ø  Proses mental mendasar
Ø  Keanggotaan rumah
Ø  Kewarganegaraan
Ø  Pemanfaatan waktu luang
Ø  Karakter, etis
Bimbingan di sekolah dapat digambarkan sebagai membantu anak-anak untuk memahami, mengatur, memperluas, dan meningkatkan kegiatan mereka, baik individu maupun kelompok.
Saran Brewer kriteria bimbingan:
1.       Orang itu dibimbing dalam penyelesaian masalah, melaksanakan tugas atau bergerak menuju tujuan.
2.       Orang itu dibimbing biasanya mengambil inisiatif dan meminta bimbingan.
3.       Bimbingan ada simpatik, ramah dan memahami klien.
4.       Bimbingan harus memiliki pengalaman dan pengetahuan.
5.       Metode bimbingan adalah untuk menawarjan peluang dan pengalaman baru.
6.       Klien di bimbing atas persetujuan dan berhak menggunakan bimbingan dalam pengambilan keputusan pribadi.
7.       Bimbingan yang ditawarkan membantu orang menerima diri sendiri.
Kelebihan dan kelemahan
Kelemahannya bahwa perluasan bimbingan dilakukan dengan pengenalan secara sifat pendidikan, etika, pribadi, moral, dsb.
Kelebihannya disediakan secara efisien dan ekonomis melalui berbagaikegiatan didalam kelas.
XIV.        Bimbingan Sebagai Penyalur dan Penyesuaian
                Bimbingan harus menyertakan dua fungsi yaitu :
1.       Distribusi, membantu siswa untuk melihat oeluang-peluang yang ada.
2.       Penyesuaian, mengintegrasikan pengetahuan tentang diri mereka dan lingkungan mereka sesuai dengan tujuan mereka.
XV.         Bimbingan sebagai Pengambilan Keputusan
                Dalam proses ini bimbingan memberikan informasi pada siswa tentang peluang yang tersedia di setiap pilihan mereka.
XVI.        Model Bimbingan Kontemporer
                Bimbingan sebagai pedoman layanan konstelasi, artinya bimbingan sebagi konstelasi layanan menegaska bahwa keberadannya di sekolah untuk mendukun bimbingan yang diberikan oleh guru.
XVII.      Bimbingan Pengembangan
                Bimbingan merupakan sebuah proses dalam membantu perkembangan siswa di semua bidang kejuruan , pendidikan, dan pengalaman pribadi sosial pada semua tahap kehidupan mereka.
                Secara filosofis , bimbingan pengembangan diarahkan pada perkembangan pencapaian kedewasaan seseorang dan pemahaman tentang diri , keasadaran lingkungan seseorang, penguasaan menyeluruh tentang diri, serta pemahaman nilai-nilai pribadi dan sosial.
XVIII.     Bimbingan Sebagai Rekonstruksi Sosial
                Model rekonstruksi sosial pada kenyataannya  merupakan cita-cita dari bimbingan yaitu memfasilitasi individu untuk bergerak lebih dekat untuk menjadi sebuah kenyataan.

R.Aj Rizky Wulan Amalia (058)

               

Tak tik Tang BK ituuuu??

Ngomongin tentang guru BK disekolah, pasti image'nya syereem banget...
Hyaaa, pasti deh itu.. Apalagi buat temen-temen yang sering dipanggil ke Ruang BK yang biasanya lokasinya jauh dari kata layak dan berada diujung sekolah kita, belum lagu kapasitas penerangan yang ala kadarnya. Ada juga ruang BK yang jadi satu sama UKS... " ya ampyuun, dikira ruang BK untuk kalangan orang sakit ?? "
hoeii.... bukan gitu teman-teman..
yuuk, kita intip tulisan dibawah ini tentang BK.., jadi apa sih BK itu??
BK atau bimbingan Konseling adalah..........................................................................................................
“Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”, jadi teman-teman bisa menyimpulkan sendirikan bahwa BK itu tugasnya bukan menghukum anak yang terlambat, bukan jadi tukang salon keliling, apalagi tukang razia sepatu..., dari pengertian BK itu sendiri kita dapat menyimpulkan bahwa BK itu memiliki peran fungsi penting untuk membantu individu memahami dirinya serta dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya..
so, jangan pernah takut berkunjung ke Ruang BK yya??
jangan ragu untuk say hello dengan guru BK kita :D



posted by : Adha Anggraini, 101014041

Makalah " Pelajar Tak Biasa ( Exceptional ) "


BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Pelajar yang tidak biasa (exceptional) adalah anak-anak yang memiliki gangguan atau ketidakmampuan dan anak-anak yang tergolong berbakat.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya. Anak-anak yang tergolong memiliki ketidakmampuan dan gangguan adalah sebagai berikut: gangguan organ indra, gangguan fisik, retardasi mental, gangguan bicara dan bahasa, gangguan belajar, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan emosional dan perilaku.
Sedangkan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa atau yang sering disebut gifteddiartikan sebagai anak berbakat khusus. Istilah mengenai gifted atau berbakat ini memang sudah sering kita dengar, hanya saja klasifikasi atau kategori dari seorang anak yang dapat dikatakan sebagai anak gifted ini yang perlu kita cermati lebih mendalam.
Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang.
Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.
Keberbakatan yang berdasarkan sekolah biasanya melihat kemampuan relatif. Anak diidentifikasikan berdasarkan penampilannya membandingkan dengan teman sekelasnya. Umumnya pada anak berbakat, prestasi belajarnya juga tinggi. Tapi dapat pula ditemukan anak berbakat yang prestasinya tidak optimal bahkan sering kali bermasalah. Prestasi yang kurang ini sering dianggap karena faktor motivasi dan psikologis. Anak sering dianggap malas dan tidak bersungguh sungguh, dan sering kali orangtua disalahkan karena tidak menerapkan disiplin. Banyak penelitian menyebutkan, diantara anak berbakat tidak berprestasi karena mengalami kesulitan yang terselubung (Silverman 2002).
Perkembangan yang tidak sinkron dimaksud adalah perkembangan intelektual, fisik dan emosi tidak berjalan dengan kecepatan yang sama. Kemampuan intelektual selalu berkembang lebih cepat. Dengan adanya perkembangan yang tidak sinkron ini diperlukan modifikasi dalam hal pengasuhan baik oleh orangtua, guru maupun konselor agar anak dapat berkembang optimal.
B.       RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana karakteristik ketidakmampuan dan gangguan pada anak?
2.    Bagaimana aspek hukum, perencanaan, penempatan, dan penyediaan layanan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus?
3.    Apa yang dimaksud dengan bakat? dan bagaimana pendekatan mengajar anak-anak berbakat?
C.      TUJUAN
1.    Mendeskripsikan berbagai tipe ketidakmampuan dan gangguan.
2.    Menjelaskan kerangka hukum, perencanaan, penempatan, dan penyediaan layanan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus.
3.    Mendefiniskan arti bakat dan mendiskusikan beberapa pendekatan untuk mengajar anak –anak berbakat.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Karakteristik Anak yang Menderita Ketidakmampuan
Pelajar “yang tidak biasa” (exceptional) adalah anak-anak yang memiliki gangguan atau ketidakmampuan dan anak-anak yang tergolong berbakat.Disability atau ketidakmampuan adalah keterbatasan fungsi yang membatasi kemampuan seseorang. Didalam bab ini akan kita kelompokkan dan jelaskan masing-masing ketidakmampuan dan gangguan (disorder) sebagai berikut :
Gangguan Organ Indra
Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran.
a.       Kerusakan Penglihatan
Terdapat murid-murid yang mengalami problem penglihatan (visual) yang masih belum diperbaiki dan beberapa diantaranya menderita gangguan visual serius dan dikategorikan rusak penglihatannya, yang lebih dikenal dengan low vision dan murid buta.
Anak low vision dapat membaca buku dengan huruf besar-besar atau dengan bantuan kaca pembesar.Anak yang “buta secara edukasional” tidak bisa menggunakan penglihatan mereka untuk belajar dan harus menggunakan pendengaran dan sentuhan untuk belajar.Banyak anak buta memiliki kecerdasan normal dan berprestasi secara akademik apabila diberi dukungan dan bantuan belajar yang tepat. Salah satu tugas penting untuk mengajar anak yang menderita gangguan atau kerusakan penglihatan ini adalah menentukan modalitas (seperti sentuhan atau pendengaran) untuk membantu anak belajar dengan baik (Bowe,2000). Salah satu persoalan dalam pendidikan murid yang buta adalah rendahnya penggunaan huruf braille dan sedikitnya guru yang menguasai huruf braille dengan baik (Hallahan & Kauffman, 2003).
b.      Gangguan Pendengaran
Anak tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya.Pendekatan pendidikan untuk membantu anak yang punya masalah pendengaran terdiri dari dua kategori yaitu pendekatan oral dan manual. Pendekatan oral antara lain menggunakan metode membaca gerak bibir, speech reading (menggunakan alat visual untuk mengajar membaca), dan sejenisnya. Pendekatan manual adalah dengan bahasa isyarat dan mengeja jari (finger spelling).Bahasa isyarat adalah sistem gerakan tangan yang melambangkan kata.Pengejaan jari adalah “mengeja” setiap kata dengan menandai setiap huruf dari satu kata.Pendekatan oral dan manual dipakai bersama untuk mengajar murid yang mengalami gangguan pendengaran (Hallahan & Kauffman, 2000).
Gangguan/ketidakmampuan Fisik
Gangguan fisik anak antara lain adalah gangguan ortopedik, seperti gangguan karena cedera otak (cerebral palsy), dan gangguan kejang-kejang (seizure). Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah dan pelayanan psikologi khusus.
a.       Gangguan ortopedik
Gangguan ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot tulang maupun sendi.Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi.Dengan bantuan alat adaptif dan teknologi pengobatan banyak anak yang menderita gangguan ortopedik bisa berfungsi normal di kelas (Boyles & Contadino, 1997).
b.      Cerebral palsy
Merupakan gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan bicaranya tidak jelas.Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran.Banyak anak yang menderita cerebral palsy bicaranya tidak jelas. Untuk anak seperti ini, synthesizer suara dan ucapan, papan komunikasi serta peralatan talking notes dan page turners dapat meningkatkan kemampuan komunikasi mereka.
c.       Gangguan kejang-kejang
Jenis yang paling kerap dijumpai adalah epilepsi yaitu gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang.Anak yang mengalami epilepsi biasanya dirawat dengan obat anti kejang yang biasanya efektif dalam mengurangi gejala tapi tidak menghilangkan penyakitnya.
Retardasi Mental
Makin banyak anak retardasi mental yang belajar di sekolah umum.Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual (Zigler, 2002). Selain intelegensinya rendah, anak dengan retardasi mental juga sulit menyesuaikan diri dan susah berkembang. Keterampilan adaptif antara lain adalah keahlian memerhatikan dan merawat diri sendiri dan mengemban tanggung jawab sosial.
Berdasarkan definisinya, retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya dibawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. IQ rendah dan kemampuan beradaptasi yang rendah biasanya tampak sejak kanak-kanak, dan tidak tampak pada periode normal, dan keadaan retardasi ini bukan disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit atau cedera otak.
Retardasi mental diklasifikasikan menjadi retardasi ringan, moderat, berat dan parah.Individu dengan retardasi mental ringan masih banyak yang bisa bekerja dan mencari nafkah sendiri dengan dukungan pengawasan atau dukungan kelompok. Individu dengan retardasi mental berat membutuhkan lebih banyak dukungan, kemungkinan besar individu ini juga menunjukkan tanda-tanda komplikasi neurologis, seperti cerebral palsy, epilepsi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan atau cacat bawaan metabolis lainnya yang mempengaruhi sistem saraf pusat (Terman, dkk., 1996).
a.       Retardasi mental disebabkan oleh faktor genetik dan kerusakan otak (Dykens, Hodapp, & Finucane, 2000). Dari faktor genetik, bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah down syndrome (Sindrom Down) yang ditransmisikan (diwariskan) secara genetik. Anak dengan sindrom down ini punya kromosom lebih (kromosom 47). Dengan intervensi dini dan dukungan ekstensif dari keluarga anak dan dari kalangan profesional, banyak anak dengan sindrom down bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri (Boyles & Contadino, 1997). Anak penderita sindrom down bisa termasuk dalam kategori retardasi ringan sampai berat (Terman, dkk., 1996).
b.      Selain sindrom down, ada tipe kedua dari retardasi mental yang diwariskan secara genetic yaitu Fragile X Syndrome. Sindrom ini diwariskan melalui kromosom X yang tidak normal, yang menyebabkan retardasi mental ringan sampai berat. Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena faktor lingkungan luar (DAS, 2000).
c.       Faktor lingkungan dari luar yang dapat menyebabkan retardasi mental antara lain adalah benturan di kepala, malnutrisi, keracunan, luka saat kelahiran atau karena ibu hamil kecanduan alcohol. Fetal Alcohol Syndrome (FAS) adalah serangkaian ketidaknormalan, termasuk retardasi mental dan ketidaknormalan wajah yang muncul dalam diri anak dari ibu yang kecanduan minuman beralkohol pada waktu hamil.
Gangguan Bicara dan Bahasa
Gangguan bicara dan bahasa antara lain masalah dalam berbicara (seperti gangguan artikulasi, gangguan suara dan gangguan kefasihan bicara), dan problem bahasa (seperti kesulitan menerima informasi dan mengekspresikan bahasa).
Gangguan artikulasi
Gangguan artikulasi adalah problem dalam pengucapan suara secara benar.Anak penderita problem artikulasi mungkin sulit berkomunikasi dengan teman atau guru dan merasa malu.Akibatnya, anak enggan bertanya, tidak mau berdiskusi atau berkomunikasi dengan temannya.Problem artikulasi umumnya bisa diperbaiki dengan terapi bicara.
Gangguan suara
Gangguan suara tampak dalam ucapan yang tidak jelas, keras, terlalu kencang, terlalu tinggi, atau terlalu rendah.
Gangguan kefasihan
Gangguan kefasihan atau kelancaran bicara biasanya dinamakan “gagap”.Kondisi ini terjadi ketika ucapan anak terbata-bata, jeda panjang atau berulang-ulang.
Gangguan bahasa
Gangguan bahasa adalah kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresif anak.Gangguan bahasa dapat menyebabkan problem belajar serius (Bernstein & Tigerman-Farber, 2002). Gangguan bahasa mencakup tiga kesulitan, antara lain:
1)      Kesulitan menyusun pertanyaan untuk memperoleh informasi yang diharapkan.
2)      Kesulitan memahami dan mengikuti perintah lisan.
3)      Kesulitan mengikuti percakapan, terutama ketika percakapan itu berlangsung cepat dan kompleks.
Bahasa reseptif adalah penerimaan dan pemahaman atas bahasa. Anak penderita gangguan bahasa reseptif akan kesulitan untuk menerima informasi. Informasi masuk tetapi otak akan sulit untuk memprosesnya secara efektif, yang menyebabkan anak kelihatan cuek atau bengong saja.
Bahasa ekspresif berkaitan dengan kemampuan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan berkomunikasi dengan orang lain. Beberapa anak bisa dengan mudah memahami apa yang diucapkan orang lain, namun mereka kadang kesulitan untuk memberi tanggapan atau mengekspresikan pendapatnya.
Gangguan / Ketidakmampuan Belajar
Berdasarkan definisinya, anak yang menderita gangguan belajar :
1.         Punya kecerdasan normal atau di atas normal;
2.         Kesulitan dalam setidaknya satu mata pelajaran bahkan lebih;
3.         Tidak memiliki problem atau gangguan lain seperti retardasi mental, yang menyebabkan kesulitan itu.
Konsep umum gangguan atau ketidakmampuan belajar mencakup problem dalam kemampuan mendengar, berkonsentrasi, berbicara, berpikir, memori, membaca, menulis, dan mengeja, dan atau keterampilan sosial (Kamphaus, 2000).Gangguan belajar sulit untuk didiagnosis (Bos & Vaughn, 2002).Ketidakmampuan untuk belajar sering kali mencakup kondisi yang bisa jadi berupa adanya problem mendengar, berkonsentrasi, berbicara, membaca, menulis, menalar, berhitung, atau problem interaksi sosial.Jadi, anak yang memiliki masalah gangguan belajar boleh jadi memiliki profil yang berbeda-beda (Henley, Ramsey, & Algozzine, 1999).Gangguan belajar mungkin berhubungan dengan kondisi medis seperti fetal alcohol syndrome (American Psychiatric Association, 1994).Gangguan belajar juga terjadi bersama dengan gangguan yang lainnya, seperti gangguan komunikasi dan gangguan perilaku emosional (Poloway dkk., 1997).
Bidang paling umum yang menyulitkan anak dengan gangguan belajar adalah aktivitas membaca, terutama keterampilan fonologis yang menyangkut cara memahami bagaimana suara dan huruf membentuk kata. Dyslexiaadalah kerusakan berat dalam kemampuan untuk membaca dan mengeja.Meningkatkan kemampuan anak yang mengalami masalah dalam belajar ini adalah tugas sulit dan umumnya membutuhkan intervensi intensif agar mereka mampu memberikan hasil yang baik.Belum ada model program yang terbukti efektif untuk semua anak yang memiliki masalah ketidakmampuan belajar ini (Terman, dkk., 1996).
Anak yang menderita ketidakmampuan belajar biasanya tidak terlalu tampak gejalanya, dapat berkomunikasi secara verbal dan tidak menarik diri dari lingkungan.Banyak intervensi difokuskan pada upaya meningkatkan kemampuan membaca si anak (Lyon & Moats, 1997).Sayangnya, tidak semua anak yang mempunyai masalah dalam belajar mendapat manfaat dari intervensi ini.Anak-anak yang lemah dalam penguasaan fonologi, yang membuatnya susah mengenali kata, biasanya merespon secara lebih lambat daripada anak-anak yang memiliki masalah membaca tingkat ringan (Torgesen, 1995).
Gangguan dalam kemampuan membaca telah menjadi target studi intervensi yang paling lazim karena ini adalah bentuk paling umum dari gangguan belajar. Gangguan ini juga mudah diidentifikasi dan mempresentasikan area gangguan belajar yang paling banyak kita ketahui (Lyon, 1996). Intervensi untuk tipe gangguan belajar lain telah diciptakan tetapi belum diriset secara ekstensif.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Attention Deficit Hyperactivity Disorderatau ADHD adalah bentuk ketidakmampuan anak yang ciri-cirinya antara lain:
a.       Kurang perhatian;
Anak yang kurang perhatian (inattentive) sulit berkonsentrasi pada satu hal dan mungkin cepat bosan mengerjakan tugas.
b.      Hiperaktif;
Anak hiperaktif menunjukkan level aktifitas fisik yang tinggi, hampir selalu bergerak.
c.       Impulsif.
Anak impulsif sulit mengendalikan reaksinya dan gampang bertindak tanpa pikir panjang.
Anak yang menunjukkan gejala ADHD bisa didiagnosis sebagai ADHD dengan kecenderungan lebih pada kekurangan perhatian, lebih hiperaktif / impulsif dan mempunyai kecenderungan lebih pada hiperaktif / impulsif. Tanda-tanda ADHD dapat muncul sejak usia prasekolah. Orang tua dan guru prasekolah (kelompok bermain) dan taman kanak-kanak mungkin mengetahui bahwa ada anak-anak yang sangat aktif dan konsentrasinya kurang. Banyak anak ADHD sulit diatur, kurang toleransi terhadap rasa frustasi dan punya masalah dalam berhubungan dengan teman sebaya.Karakteristik umum lainnya adalah ketidakdewasaan dan dekil.
Penting bagi guru dan orang tua untuk tidak memberikan pesan kepada anak bahwa obat itu adalah jawaban untuk semua kesulitan akademik mereka (Hallahan & Kauffman, 2000).Selain diberi obat, anak dengan ADHD harus diajak untuk bertanggung jawab atas perilaku mereka.
Gangguan Emosional dan Perilaku
Kebanyakan anak pernah mengalami gangguan emosional pada saat waktu tertentu pada masa sekolah.Gangguan perilaku dan emosional terdiri atas problem serius dan terus-menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah dan juga berhubungan dengan karakteristik sosioemosional yang tidak tepat.
Beberapa anak yang digolongkan memiliki gangguan emosional serius dan melakukan tindakan yang mengganggu, agresif membangkang dan membahayakan biasanya akan dikeluarkan dari sekolah (Terman, dkk., 1996). Para pakar gangguan emosional dan perilaku mengatakan bahwa jika anak-anak ini dikembalikan ke sekolah, baik guru kelas reguler maupun guru pendidik khusus atau konsultan harus meluangkan banyak waktu untuk membantu mereka beradaptasi dan belajar secara efektif (Hocutt, 1996).
Beberapa anak memendam problem emosional mereka.Depresi, kecemasan dan ketakutan mereka menjadi makin hebat dan menetap sehingga kemampuan mereka dalam belajar makin menurun. Depresi adalah jenis gangguan suasana hati (mood) dimana pengidapnya merasa dirinya tak berharga sama sekali, percaya bahwa keadaan tidak akan pernah membaik dan tampak lesu dan tidak bersemangat dalam jangka waktu yang lama. Terapi kognitif dan terapi obat biasanya efektif dalam membantu orang agar tidak terlalu tertekan (Beckham, 2000).
Kecemasan (anxiety) adalah perasaan yang tidak menentu sekaligus tidak menyenangkan (Kowalski, 2000).Anak pada umumnya pernah mengalami kecemasan saat menghadapi tantangan hidup, tetapi pada beberapa anak kecemasan itu berlebihan dan bertahan lama sehingga mengganggu prestasi sekolahnya.

B.     Pendidikan yang Berkaitan dengan Anak yang Menderita Ketidakmampuan
Isu Pendidikan Ynag Berkaitan Dengan Anak Ynag Menderita Ketidakmampuan
Aspek Hukum
Pada pertengahan 1960-an dan 1970-an,anggota dewan perwakilan,pengadilan federal, dan kongres AS mengakui hak anak yang menderita gangguan untuk mendapatkan pendidikan khusus. Pada 1975,kongres mengesahkan Public law 94-142,Education for All Handicapped of Children Act,yang mensyratkan agar semua murid dengan ketidakmampuan diberi pendidikan yang tepat dan gratis.
Individual with Disabilites Education Act ( IDEA )
Pada 1990,Public Law 94 – 142 diganti menjadi Individual with Disabilites Education Act ( IDEA ). IDEA menetapkan mandate luas untuk pelayanan bagi semua anak penderita ketidakmampuan. Mandate ini mencakup evaluasi dan determinasi eliglibitas,pendidikan yang tepat dan rancangan pendidikan yang disesuaikan dengan setiap anak,dan pendidikan dalam lingkungan yang tak terlampau ketat. Sekolah dilarang merancang program pendidikan tanpa evaluasi terlebih dahulu dan dilarang menentukan penerimaan berdasarkan persediaan tempat. Orang tua harus diundang untuk berpartisipasi dalam proses evaluasi. Penilaian ulang harus dilakukan setidaknya setiap tiga tahun sekali atau terkadang satu tahun skali jika diminta oleh para orang tua. Orang tua yang tidak setuju dengan evaluasi sekolah dapat mencari evaluasi indpenden dan harus dipertimbangkan oleh sekolah dalam memberikan layanan pendidikan khusus. Sekolah harus menyediakan layanan yang tepa bagi si anak. IDEA mensyaratkan agar murid yang menderita ktidakmampuan diberi rancanagn pendidikan yang disesuaikan dengan diri si anak (individualized education plan) atau IEP. IEP ini adalah pernyataan tertulis yang menyatakan sebuah program yang disusun  untuk anak yang menderita ketidakmampuan. Secara umum IEP harus : 1. Sesuai dengan kemampuan belajar anak,2. Disusun khusus  untuk memenuhi kebutuhan individual anak,tidak sekedar menyalin apa-apa yang sudah diberikan kepada anak lain,dan 3. Didesain untuk memberikan manfaat pendidikan. Pada 1997 dilakukan amandemen IDEA. Perubahannya antara lain penilaian atas dukungan perilaku positif dan perilaku fungsional. Perilaku positif difokuskan pada aplikasi intervensi perilaku positif yang tepat secara cultural untuk menghasilkan perubahan perilaku anak. Penilaian perilaku funsional adalah menilai konsekuensi,,anteseden,dan setting kejadian.
Least Retrictive Environment ( LRE )
Dalam IDEA, anak yang mempunyai ketidakmampuan harus dididik dalam lingkungan dengan retriksi minimal ( LRE ). Ini sebuah setting yang mirip dengan setting tempat mendidik anak yang normal. Ketentuan IDEA ini memberi dasar hokum untuk mendidik anak yang tidakkemampuan di kelas regular. Pendidikan anak ketidakmampuan di kelas regular dinamakan mainstreaming. Namun istilah itu kini diganti dengan inklusi, yang berarti mendidik anak dengan pendidikan special di kelas regular. Sekolah harus menyediakan inklusi untuk anak dengan ketidakkemampuan. Prinsip LRE memaksa sekolah  untuk mengkaji modifikasi kelas regular sebelum memindahkan anak dengan ketidakmampuan ke tempat yang lebih restriktif. Guru kelas regular juga perlu training khusus.
Beberapa ahli percaya bahwa program terpisah juga dapat lebih efektif dan tepat bagi anak penderita ketidakmampuan. Riset terhadap hasil inklusi menunujukkan kesimpulan berikut. ( Hocutt,1996 ) :
1.      Kesuksesan akademik dan social anak
2.      Anak dengan gangguan emosional berat
3.      Anak dengan gangguan pendengaran
4.      Anak dengan retardasi mental yang dapat dididik
5.      Anak yang tidak mengalai gangguan.
Penempatan dan Pelayanan
Anak penderita ketidakmampuan dapat ditempatkan di berbagai setting,dan serangkaian pelayanan dapat dipakai untuk meningkatkan pendidikan mereka.

Penempatan
Penempatan anak dengan ketidakmampuan ini disusun dari tempat yang kurang restriktif sampai ke yang paling restriktif ( Deno,1970 ):
a.       Kelas regular dengan dukungan pengajaran tambahan di kelas regular
b.      Sebagian waktu dihabiskan di ruang sumber daya
c.       Penempatan full time dalam kelas pendidikan khusus
d.      Sekolah khusus
e.       Instruksi rumah
f.       Instruksi di rumah sakit atau institusi lain
Pelayanan
Pelayanan untuk anak dapat disediakan oleh guru kelas regular,guru sumber daya,guru pendidikan khusus, konsultan kolaboratif,professional lain,atau tim interaktif
Guru kelas regular.
Dengan meningkatnya inklusi,guru kelas regular bertanggung jawab memberikan lebih banyak pendidikan anak yang menderita ketidakmampuan belajar ketimbang di masa lalu. Teaching Strategis dapat membantu memberikan pendidikan yang lebih efektif kepada anak penderita ketidakmampuan.
Teaching Strategies
1.      Jalankan rencana pendidikan individual untuk setiap anak
2.      Dorong sekolah anda untuk memberikan tambahan dukungan dan training cara mengajar anak penderita ketidakmampuan
3.      Gunakan dukungan yang tersedia
4.      Pelajari dan pahami tipe-tipe anak dengan ketidakmampuan di kelas anda
5.      Berhati-hatilah dengan member label anak yang mengalami ketidakmampuan
6.      Penuh perhatian,menerima,dan sabar
7.      Bantu anak yang tidak menderita ketidakmampuan untuk menerima anak yang menderita ketidakmampuan
8.      Selalu cari informasi tentang teknologi terbaru
Guru sumber daya
Guru sumber daya dapat memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi banyak anak yang mengalami ketidakmampuan. Dalam banyak situasi,guru sumber daya bertugas untuk meningkatkan anak-anak dalam kemampuan membaca,menulis,atau matematika.
Guru pendidikan khusus
Beberapa guru telah memperoleh pelatihan ekstensif dalam pendidikan khusus dan mengajar anak penderita ketidakmampuan dalam kelas pendidikan khusus yang terpisah. Beberapa anak menghabiskan waktu denga guru pendidikan khusus dan sebagian di kelas umum.guru pendidikan khusus mengemban tanggung jawab yang lebih besar.
Pelayanan terkait
Selain guru, ada sejumlah personel pendidikan khusus lainnya yang memberikan pelayanan pendidikan anak yang menderita ketidakmampuan. Mereka antara lain asisten guru,psikolog,konselor,pekerja social sekolah, perawat, dokter, terapis, audiologist,dan lain-lain
Konsultasi kolaboratif dan tim interaktif.
Dalam dua dekade terakhir ini,para pakar pendidikan untuk anak yang menderita ketidakmampuan semakin mendukung konsultasi kolaboratif. Dalam konsultasi kolaboratif orang dengan beberapa keahlian akan berinteraksi untuk memberikan pelayanan bagi anak. Kini banyak dipakai istilah interactive teaming. Anggota tim adalah kalangan professional dan orang tua untuk memberikan pelayanan langsung dan tidak langsung kepada anak.

Orang Tua sebagai Mitra Pendidikan
Individual with Disabilities Education Act ( IDEA ) mewajibkan partisipasi orang tua dalam pengembangan program pendidikan untuk semua anak tidak ketidakmampuan.
Teknologi
IDEA termasuk amandemennya menyatakan bahwa perangkat teknologi bisa disediakan untuk murid penderita ketidakmampuan demi memastikan pendidikan yang gratis dan tepat. Dua tipe teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan anak penderita ketidakmampuan adalah teknologi pengajaran dan teknologi asistensi. Teknologi pengajaran berupa berbagai tipe hardware dan software,dikombinasikan dengan merode pengajaran yang inovatif,untuk mengakomodasi kebutuhan belajar dikelas. Teknologi asistensi berupa beragam perangkat dan pelayanan yang membantu murid penderita ketidakmampuan agar bisa berkomunikasi di lingkungan mereka. Contoh : alat bantu komunikasi, keyboard computer alternative,dan lain-lain.

C.   Anak-Anak Berbakat
Anak berbakat adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang superioritas atau seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi. Terman yang menggunakan inteligensi sebagai kriteria tunggal untuk mengidentifikasikan anak berbakat yaitu IQ 140 (Munandar, 2002). Konsep lain tentang keberbakatan yang sampai sekarang banyak digunakan dalam mengidentifikasi siswa berbakat di Indonesia adalah dari Renzulli, dkk (1981). Menurut definisi yang dikemukakan Renzulli yang lebih dikenal dengan “The Three Ring Conception“(dalam Munandar, 2002) anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang terdiri dari: Kemampuan di atas rata-rata, kreativitas dan komitmen terhadap tugas yang tinggi.
Umumnya pada anak berbakat, prestasi belajarnya juga tinggi. Tapi dapat pula ditemukan anak berbakat yang prestasinya tidak optimal bahkan sering kali bermasalah. Prestasi yang kurang ini sering dianggap karena faktor motivasi dan psikologis. Anak sering dianggap malas dan tidak bersungguh sungguh, dan sering kali orangtua disalahkan karena tidak menerapkan disiplin. Banyak penelitian menyebutkan, diantara anak berbakat tidak berprestasi karena mengalami kesulitan yang terselubung (Silverman 2002).
      Anak berbakat, walau dengan atau tanpa berada dikelas akselerasi, tetapi mempunyai potensi untuk berkembang. Mereka termotivasi secara internal. Dengan adanya minat atau ketertarikan dan kesempatan, anak akan termotivasi. Jadi bila anak tertarik akan sesuatu dan terdapat kesempatan atau tantangan yang sesuai, maka dia akan dapat berprestasi (Brody 1997).
Terdapat juga beberapa bakat lainnya, yaitu :
1.      Bakat kognitif: sangat memperhatikan; penuh keingin tahuan; sangat tertarik; atensinya panjang, kemampuan untuk mengetahui alasan (reasoning) sangat baik; perkembangan tentang abstraksi, konseptual dan sintemasis baik; dengan mudah dan cepat dapat melihat adanya hubungan antara ide, objek dan fakta; proses berpikirnya cepat dan fleksibel. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) nya sangat baik; belajarnya cepat, dengan sedikit praktek dan pengulangan.
2.      Bakat sosial dan emosional: tertarik dengan hal-hal philosofi dan sosial; sangat sensitif dan emosional; sangat memperhatikan kejujuran dan keadilan; perfeksionis; energik; rasa humornya berkembang baik; umumnya termotivasi dari dalam dirinya sendiri; hubungan baik dengan orangtua, guru dan orang dewasa lain.
3.      Bakat bahasa: perbendaharaan katanya sangat banyak; dapat membaca pada usia sangat dini, membacanya cepat dan sangat luas; sering bertanya tentang “bagaimana kalau”. Bakat yang lain: senang mempelajari sesuatu yang baru; menyenangi aktifitas intelektual; malakukan permainan intelektual; lebih memilih buku bacaan untuk anak yang lebih besar; skeptis, kritis dan penuh evaluatif, perkembangannya asinkron (Bainbridge).
 Karakter Anak Berbakat
Dalam karakter anak berbakat Ellen Winner (1996) seorang ahli kreatifitas dan anak berbakat memiliki 3 kriteria yang meliputi :
*        Dewasa Lebih Dini : Dalam artinya kemampuan seorang anak yang melebihi teman sebayanya ini mempunyai kesempatan untuk menggunakan bakat dan talenta yang ia miliki lebih awal karena daya kognitif serta kemampuan yang ia miliki sejak lahir membawa domain tertentu baginya.
*        Belajar Menuruti kemauan Mereka Sendiri : Lain halnya dengan anak biasanya, anak – anak yang berbakat ini sangat memerlukan banyak dukungan orang tuanya karena mereka anak gifted sangat mudah mencari jalan keluar atas masalahnya sendiri yang masih melingkupi kemampuannya. Namun, mungkin kemampuan mereka terbatas jika diluar kemampuan mereka.
*        Semangat untuk Menguasai : Anak yang berbakat ini sangat tertarik untuk memahami bidang yang menjadi bakat mereka. Mereka memperlihatkan minat besar dan obsesif dan kemampuan kuat fokus.Mereka mempunyai motivasi internal yang kuat.
Para peneliti telah menemukan bahwa anak berbakat belajar lebih cepat, memproses informasi, menggunakan penalaran mereka yang lebih baik, menggunakan strategi yang lebih baik, dan memantau pemahaman yang lebih baik ketimbang anak yang lebih berbakat. (Sternberg & Clickenbeard, 1995)
·         Karakteristik fisik
Anak berbakat merupakan kelompok anak yang berbakat yang memiliki keunggulan lebih, baik pada ketinggian, energi dan kesehatan dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka yang memiliki kecerdasan rata-rata.
Anak gifted rata-rata baik dalam karakter fisik dan mental pada saat mereka berusia beberapa tahun, keuggulan mereka tidak tampak pada awal kelahiran. Selain itu, terdapat hubungan antara IQ dan status sosial ekonomi, Keunggulan fisik pada anak berbakat mungkin diakibatkan faktor non-intelektual.
·         Karakteristik Pendidikan dan karakter pekerjaan
Dalam hal pendidikan anak berbakat cenderung memiliki prestasi pada  akademik. Mereka bisa belajar membaca, menulis dengan mudah bahkan sebelum mereka memasuki sekolah.Dalam dunia pekerjaan anak berbakat, menuntut kemampuan intelektual, kreativitas, dan motivasi yang lebih besar dibanding dengan yang lainnya.
·         Karakteristik Sosial dan Emosional
Anak-anak berbakat cenderung bahagia dan disukai oleh rekan-rekan mereka.Secara emosional stabil dan mandiri dan kurang rentan terhadap gangguan neurotik dan psikotik daripada anak-anak rata-rata. Mereka memiliki kepentingan luas dan bervariasi dan menganggap diri mereka dalam hal positif. Penelitian Galbraith (1985) tidak menunjukkan adanya keluhan yang pasti yang terdapat pada anak-anak berbakat.
Satu pengertian umum dan terus-menerus, namun keliru, tentang orang-orang berbakat, terutama mereka yang unggul dalam seni, adalah bahwa mereka rentan terhadap penyakit mental. Namun, Freud bahkan berteori bahwa seniman berpaling dari dunia nyata dan menuju upaya-upaya kreatif karena konflik tidak sadar. prestasi mereka itu mungkin dilakukan meskipun, bukan karena, gangguan emosi mereka.
·         Karakteristik Moral dan Ethical
Individu berbakat harus dapat melihat lebih cepat atau lebih mendalam daripada rata-rata orang tentang berbagai hal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang-orang berbakat menjadi lebih unggul untuk individu rata-rata dalam keprihatinan untuk masalah moral dan etika dan perilaku moral.Anak-anak berbakat cenderung  peduli dengan konsep-konsep abstrak yang baik dan jahat, benar dan salah, keadilan dan ketidakadilan. mereka cenderung sangat peduli dengan masalah sosial dan cara mereka dapat diselesaikan.
·         Karakteristik Intelektual-Kognitif
1.      Menunjukkan atau memiliki ide-ide yang orisinal, gagasan-gagasan yang tidak lazim, pikiran-pikiran kreatif.
2.      Mampu menghubungkan ide-ide yang nampak tidak berkaitan menjadi suatu konsep yang utuh.
3.      Menunjukkan kemampuan bernalar yang sangat tinggi.
4.      Mampu menggeneralisir suatu masalah yang rumit menjadi suatu hal yang sederhana dan mudah dipahami.
5.      Memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam memecahkan masalah.
6.      Menunjukkan daya imajinasi yang luar biasa.
7.      Memiliki perbendaharaan kosakata yang sangat kaya dan mampu mengartikulasikannya dengan baik.
8.      Biasanya fasih dalam berkomunikasi lisan, senang bermain atau merangkai kata-kata.
9.      Sangat cepat dalam memahami pembicaraan atau pelajaran yang diberikan.
10.  Memiliki daya ingat jangka panjang (long term memory) yang kuat.
11.  Mampu menangkap ide-ide abstrak dalam konsep matematika dan/atau sains.
12.  Memiliki kemampuan membaca yang sangat cepat.
13.  Banyak gagasan dan mampu menginspirasi orang lain.
14.  Memikirkan sesuatu secara kompleks, abstrak, dan dalam.
15.  Mampu memikirkan tentang beragam gagasan atau persoalan dalam waktu yang bersamaan dan cepat mengaitkan satu dengan yang lainnya.
·         Karakteristik Persepsi/Emosi
  1. Sangat peka perasaannya.
  2. Menunjukkan gaya bercanda atau humor yang tidak lazim (sinis, tepat sasaran dalam menertawakan sesuatu hal tapi tanpa terasa dapat menyakiti perasaan orang lain).
  3. Sangat perseptif dengan beragam bentuk emosi orang lain (peka dengan sesuatu yang tidak dirasakan oleh orang-orang lain).
  4. Memiliki perasaan yang dalam atas sesuatu.
  5. Peka dengan adanya perubahan kecil dalam lingkungan sekitar (suara, aroma, cahaya).
  6. Pada umumnya introvert.
  7. Memandang suatu persoalan dari berbagai macam sudut pandang.
  8. Sangat terbuka dengan pengalaman atau hal-hal baru.
  9. Alaminya memiliki ketulusan hati yang lebih dalam dibanding anak lain.
·         Karakteristik Motivasi Dan Nilai-Nilai Hidup
1.      Menuntut kesempurnaan dalam melakukan sesuatu (perfectionistic).
2.      Memiliki dan menetapkan standar yang sangat tinggi bagi diri sendiri dan orang lain.
3.      Memiliki rasa ingin tahu dan kepenasaran yang sangat tinggi.
4.      Sangat mandiri, sering merasa tidak perlu bantuan orang lain, tidak terpengaruh oleh hadiah atau pujian dari luar untuk melakukan sesuatu (self driven).
5.      Selalu berusaha mencari kebenaran, mempertanyakan dogma, mencari makna hidup.
6.      Melakukan sesuatu atas dasar nilai-nilai filsafat yang seringkali sulit dipahami orang lain.
7.      Senang menghadapi tantangan, pengambil risiko, menunjukkan perilaku yang dianggap “nyerempet-nyerempet bahaya” .
8.      Sangat peduli dengan moralitas dan nilai-nilai keadilan, kejujuran, integritas.
9.      Memiliki minat yang beragam dan terentang luas.
·         Karakteristik Aktifitas
1.      Punya energi yang seolah tak pernah habis, selalu aktif beraktifitas dari satu hal ke hal lain tanpa terlihat lelah.
2.      Sulit memulai tidur tapi cepat terbangun, waktu tidur yang lebih sedikit dibanding anak normal.
3.      Sangat waspada.
4.      Rentang perhatian yang panjang, mampu berkonsentrasi pada satu persoalan dalam waktu yang sangat lama.
5.      Tekun, gigih, pantang menyerah.
6.      Cepat bosan dengan situasi rutin, pikiran yang tidak pernah diam, selalu memunculkan hal-hal baru untuk dilakukan.
7.      Spontanitas yang tinggi.
·         Karakteristik Relasi Sosial
1.      Umumnya senang mempertanyakan atau menggugat sesuatu yang telah mapan.
2.      Sulit melakukan kompromi dengan pendapat umum.
3.      Merasa diri berbeda, lebih maju dibanding orang lain, merasa sendirian dalam berpikir atau pada saat merasakan suatu bentuk emosi.
4.      Sangat mudah jatuh iba, empatik, senang membantu.
5.      Lebih senang dan merasa nyaman untuk berteman atau berdiskusi dengan orang-orang yang usianya jauh lebih tua.



 Studi Terman Klasik
Lewis Terman (1925) telah memgamati sebagian anak yang memiliki IQ diatas 150 lebih mendominasi menyelesaikan studinya dibanding dengan memiliki IQ yang normal. Dari 672 wanita, dua per tiganya lulus sarjana pada 1930’an dan seperempatnya masuk pasca sarjana. Wanita berbakat dalam studi terman mereprentasikan kelompok yang melewati masa kanak-kanak dan sebagian dai masa dewasa mereka.
Sebagai suatu kelompok, orang-orang berbakat dalam studi Terman telah matang secara intelektual sebelum waktunya tetapi mereka tidak mengalami gangguan emosional atau penyesuaian diri. Steven Ceci (1990) mengatakan bahwa analisis terhadap perkembangan kelompok dalam studi Terman menunjukkan sesuatu yang penting. Pada intinya, bukan IQ saja yang membuat mereka sukses tetapi bakat juga menjadi salah satu faktornya. Dan anak berbakat dapat sukses tidak harus selalu diiringi kekayaan keluarganya.
 Mendidik Anak Berbakat
Alasan Penyediaan Pendidikan Khusus Bagi Anak Berbakat
Anak berbakat yang tidak merasa tertantang dapat mengganggu, tidak naik kelas, dan kehilangan semangat untuk berprestasi. Terkadang anak-anak ini suka membolos, pasif, dan apatis terhadap sekolah (Roselli, 1996).
Setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan dimana hal tersebut akan sangat berguna untuk aktualisasi potensi-potensi luar biasa yang ada pada diri mereka dan juga dalam berkontribusi dengan lingkungan sosial
Anak berbakat adalah human resource yang harus diberdayakan karena mereka dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah sosial di masa depan.Sistem pendidikan saat ini belum bisa mengakomodasi anak berbakat khusus atau gifted. Sekolah cenderung menyeragamkan kemampuan anak tanpa melihat potensinya. Padahal, tanpa penanganan yang tepat, potensi besar anak berbakat khusus akan terbengkalai dan kerap menimbulkan masalah.
Anak berbakat khusus mempunyai kemampuan dan cara berpikir yang berbeda dari anak pada umumnya. Mereka juga mempunyai kebutuhan besar untuk berpikir dan berekspresi secara bebas. Sekolah yang ada saat ini cenderung tidak melihat keunikan tersebut. Sistem pendidikan juga belum bisa memenuhi kebutuhan anak berbakat khusus untuk berpikir secara bebas. Kelas akselerasi yang semula dimaksudkan untuk mewadahi anak berbakat khusus pun, pada kenyataannya hanya berisi pemadatan materi pelajaran.
Layanan tambahan untuk anak berbakat
Anak- anak berbakat membutuhkan layanan tambahan untuk perkembangan dan pengetahuan lainnya melalui studi independent dengan anggota fakultas atau komunitas orang-orang yang memiliki sumber daya. Mereka menemukan ada hal-hal yang dapat menjadi layanan tambahan bagi anak-anak berbakat khusus, antara lain:
1.         Kursus mini, kunjungan lapangan, dan seminar khusus yang diselenggarakan.
2.         Proyek khusus seperti majalah ilmiah, radio dan program televisi, pameran, majalah, proyek pembuatan film.
3.         Berpartisipasi di dalam atau diluar program kelompok  dalam sekolah dan organisasi lain.
4.         Melewatkan kelas, penempatan dalam kelompok kelas-tingkat lanjut, kursus musim panas (summer courses), pendidikan orang tua dan program perguruan tinggi masyarakat.
5.          Program penghargaan, seminar khusus, dan kursus-kursus lainnya.
6.         Berpartisipasi di dalam program komunitas/masyarakat seperti workshop seniman, club teater, dan lain-lain.
7.         Festival masyarakat, program restorasi, pusat penitipan, dan proyek layanan khusus seperti bantuan untuk penyandang cacat, dan lansia.
8.         Magang, dan mentorships dengan komunitas profesional, bisnis, badan pemerintah lokal, museum, dan orang yang memegang posisi kepemimpinan dalam kelompok kepentingan khusus seperti masyarakat sejarah, kelompok lingkungan, tempat pemeliharaan hewan, klub jasa.
9.         Konseling individu dan kelompok, pengalaman khusus dalam eksplorasi karir, berkunjung ke kampus perguruan tinggi, dan pengalaman karir dengan orang-orang yang bekerja di area yang menarik perhatian/minat.
Selain itu, terdapat tujuh rencana untuk mengelompokkan siswa dan memodifikasi kurikulum untuk siswa berbakat dan jenius dijelaskan oleh Weiss dan Gallagher (1982) sebagai berikut:
a.       Pengayaan di kelas.
b.       Program guru konsultan.
c.        Ruang sumber daya / program penarikan.
d.       Program studi independen.
e.        Program mentoring komunitas/masyarakat.
f.        Kelas khusus (akselerasi).
g.        Sekolah khusus.
Memanajemen Anak Berbakat Khusus di Sekolah
a.       Guru harus melakukan review secara periodik dalam upaya melihat individual differencespada anak berbakat khusus.
b.      Guru harus menganalisis dan menyesuaikan pendidikan yang cocok untuk anak berbakat khusus.
c.       Guru harus mampu mencari sumber daya yang ada di sekolah ataupun di masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan kemudahan bagi anak berbakat khusus.
d.      Guru harus mendukung pengembangan program khusus bagi anak berbakat khusus.

















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Anak yang tergolong memiliki ketidakmampuan dan gangguan adalah anak yang memiliki kekurangan dibandingkan anak seusianya. Anak-anak ini diklasifikasikan dalam beberapa jenis gangguan, antara lain adalah gangguan organ indra, gangguan fisik, retardasi mental, gangguan bicara dan bahasa, gangguan belajar, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan emosional dan perilaku. Pelajar yang termasuk dalam anak-anak yang memiliki ketidakmampuan ini dilindungi oleh hukum serta diberikan penempatan dan pelayanan oleh pemerintah.
Sedangkan anak berbakat adalah anak yang memiliki keunggulan dibandingkan anak seusianya. Anak-anak berbakat istimewa secara alami memiliki karakteristik yang khas yang membedakannya dengan anak-anak normal. Karakteristik ini mencakup beberapa domain penting, termasuk di dalamnya: domain intelektual-koginitif, domain persepsi-emosi, domain motivasi dan nilai-nilai hidup, domain aktifitas, serta domain relasi sosial.
Anak - anak berbakatjuga membutuhkan layanan tambahan, sama seperti anak yang memiliki ketidakmampuan untuk perkembangan dan pengetahuan lainnya melalui studi independen dengan anggota fakultas atau komunitas orang-orang yang memiliki sumber daya. Namun, Sistem pendidikan saat ini belum bisa mengakomodasi anak berbakat khusus atau gifted. Sekolah cenderung menyeragamkan kemampuan anak tanpa melihat potensinya. Padahal, tanpa penanganan yang tepat, potensi besar anak berbakat khusus akan terbengkalai dan kerap menimbulkan masalah.


B.     Saran
Pemerintah sebaiknya lebih banyak memberikan wadah sekolah khusus untuk mengakomodasi anak berbakat khusus sama seperti yang dilakukan pada anak yang memiki ketidakmampuan. Pola pengasuhan dan pendidikan anak yang memiliki ketidakmampuan maupun anak berbakat khusus tidak bisa disamakan. Tanpa kebebasan penuh untuk berpikir, mereka akan sulit menggali potensinya.














DAFTAR PUSTAKA

Indahnya bersabar. 18 . Anak Berkebutuhan Khusus [Online], [http://indahnyabersabar.wordpress.com/2011/02/18/anak-berkebutuhan-khusus-abk/. diakses 25 september 2011]
Kompas.  17 Agustus 2010. Kenali anak cerdas dan berbakat istimewa [online],   [http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/17/15125953/Kenali.Anak.Cerdas.dan.Berbakat.Istimewa. diakses pada 25 April 2011]
Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana
Tirtonegoro, Sutratinah. 2006. Anak Supernormal dan Progam Pendidikannya. Jakarta: Bumi Aksara







- Posted by, Adha Anggraini (101014041)